Kutengok arlojiku, tepat pukul 18.00 WITA. Dan ini adalah kali kelima saya pulang dari perkuliahan dengan waktu yang sama dan menaiki bentor langgananku. Situasinya tak berbeda, sama seperti biasanya. Macetttt!!!. Tiba-tiba kudengarkan suara dari kejauhan, sirine rupanya. Tak lama di atas bentor, dipertigaan jalan dg.tata 1 ada dua orang lelaki berseragam berwarna hijau, seragam itu bertuliskan POLISI dipunggungnya. Dengan semangatnya mereka menjalakan tugasnya, walaupun hari tampaknya mulai gelap. "Salut". Kataku dalam hati.
Langit tak biru lagi, seperti yang kulihat saat berangkat dari rumah tadi pagi, Seketika kudengarkan adzan berkumandang yang samar-samar ditelingaku, pikirku mesjid itu berada tak begitu jauh dari tempatku saat itu. Dan seperti beberapa minggu biasanya, saya melewati jalan yang sama. Jalan Abd Kadir, dimana jalan itu terdapat rumah sahabat saya yaitu Aput. ku tengokkan pandanganku ke kiri, Sepintas ada seorang laki-laki yang usianya sudah lansia, berkaca mata, dan berkaos putih berdiri di dalam pos satpam yang ada di rumah Aput.
Tak lama begitu, saya merasakan ada yang aneh dan lain pada diriku, entah mengapa? dan ternyata baru kusadari. Saya lapar, perutku keroncongan. Teringat tadi siang, hanya segelas "Teh Gelas" dan sebungkus "Beng-beng" dan permen "Mint" yang kusantap. Keadaan ini menyiksaku saat berada di perjalanan. Wah..wah..wah.. perjalananku masih panjang, saya harus menunggu cukup lama untuk tiba di rumah, dan berharap ada makanan yang bisa kumakan setibanya di rumah.
Masih dengan memegang tongkatku. Rupanya langitpun semakin gelap, lampu jalan telah menghiasi perjalananku, Menunggu dan menunggu dengan perut keroncongan merupakan hal yang tidak mengasyikkan. Namun, semua rasa itu hilang begitu saja ketika kudapati sms dari Bangsod yang menanyakan keberadaanku. Kini keramaianpun kembali kurasakan, ketika melewati jalan cendrawasih, tepatnya pinggiran "pasar senggol". Banyak baju nan cantik dipajang diberbagai sudut pandang. Sepintas, tanpa sengaja pandanganku berpapasan dengan seorang tukang bentor. Dia tersenyum kecil kepadaku, dan kubalasnya juga dengan senyuman. Tukang bentor itu adalah suami dari tetanggaku. Asyik menulis ceritaku, ternyata saya telah sampai di lorong tercinta. Lorong yang menjadi salah satu saksi bisu dalam kisah hidupku selama ini.
Dengan dijemput oleh sang kakak dan ibuku tercinta, membuat semua rasa capek, lesuh, lapar tak saya rasakan lagi. Ketika terlahir sebuah senyuman manis dari bibir ibuku seraya berkata "Alhamdulillah, kamu sudah pulang, ndok!". Ujarnya. Ibukulah yang sangat pengertian, dia mengerti bahwa saya begitu lapar. Sekian dan terima kasih
~Wahyuni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar